ROBI PRATAMA
Kamis, 27 Maret 2014
modifikasi avanza
Modifikasi Mobil Toyota Avanza adalah salah satu Pe Er berat juga
menurut para. modifikator kendaraan roda empat ini. Karena sudah tidak
roda dua lagi jadi membutuhkan banyak sekali pengetahuan yang baru
mengenai beberapa unsur mobil yang dapat di modifikasi menjadi se tampan
mungkin untuk tampil. Salah satu kemudahan dalam memodifikasi mobil
tidak jauh adalah bagian body menurut saya pribadi dapat menambah dengan
body
kit sehingga bentuk body bisa kita sesuaikan dengan karakter kita. Dan
yang ke dua bisa kita berikan Cat Airbrush yang keren menyesuaikan model
body yang sudah jadi untuk avanza kita.
Selasa, 25 Maret 2014
konsep perilaku abnormal
Konsep Perilaku Abnormal
Perilaku abnormal dapat dilakukan
dengan pendekatan tiga perspektif yaitu :
- Frekuensi statistik
- Norma sosial, dan
- Penyimpangan perilaku.
Perilaku abnormal ditinjau dari
perspektif frekuensi statistik, apakah perilaku yang dilakukan jarang ada di
populasi umum. Tinjauan dari perspektif kedua adalah norma sosial, perilakunya
benar-benar menyimpang dari penerimaan standar sosial, nilai-nilai yang
berlaku, dan norma-norma pada umumnya. Norma dari waktu ke waktu terbentuk
secara mapan, dan secara bertahap mengalami perubahan.
Perspektif
ketiga memandang perilaku abnormal, bila hal tersebut bertentangan dengan
fungsi hidup kemampuan individu dalam masyarakat. Apakah seseorang dapat
berfungsi, sebagaimana seharusnya dalam kehidupan sehari-hari? Hal ini mencakup
kemampuan bekerja sama, merawat diri sendiri, dan memiliki interaksi sosial
yang normal.Inti penjelasan perilaku normal atau abnormal berkaitan dengan
banyaknya informasi yang dimungkinkan untuk diperoleh, agar suatu diagnosa
dapat dilakukan. Hal ini penting dilakukan agar jelas, apakah suatu perilaku
itu dapat digolongkan sebagai perilaku normal atau abnormal. Pemberian
labelling, apakah perilaku tersebut digolongkan abnormal jelas bukan sesuatu
yang mudah dilakukan.
Beberapa
perilaku abnormal seringkali disalahartikan dengan perilaku eksentrik. Perilaku
yang tidak biasa atau aneh, tetapi tidak sakit mental. Pada beberapa kasus
terdapat kesulitan untuk membedakan perilaku abnormal. Guna membantu hasil
suatu diagnosa, perlu diperhatikan sejumlah faktor berkaitan dengan waktu, umur
dan intensitas perilaku. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal perilaku
aneh yang berbeda dari orang-orang umumnya. Misalnya ada orang yang marah-marah
tanpa sebab, orang yang hidupnya suka menyendiri, atau ada orang yang murung
berkepanjangan, sehingga tidak mampu mengerjakan tugasnya sehari-hari.
Seseorang dapat saja mengalami rasa tertekan (distress) sehingga cemas dan
ketakutan, sehingga menganggu ketenangan orang lain. Orang ini kemana-mana
tidak berani sendirian, ia mengira-ira berbagai masalah dan kesulitan akan
menimpa dirinya, dan banyak masalah yang akan timbul dalam perjalanannya.
Apa yang
dinamakan gangguan psikis sebenarnya merupakan pengalaman yang dapat dialami
oleh setiap orang, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sampai suatu saat,
seseorang mengalami gangguan psikis (stres, cemas, depresi, rasa bersalah dan
sebagainya), ia tidak merasakan “pengalaman buruk’ itu menjadi miliknya.
Masalah-masalah itu seperti jauh dari kehidupannya, walaupun disadari ada
banyak masalah dalam kenyataan hidupnya. Namun ia merasakan bahwa orang lainlah
yang menjadi sumber masalahnya dan bukan dirinya.
Ada pun gejala-gejala yang menandai
perilaku terganggu atau gangguan psikis, antara lain adalah:
- Berkeringat terus menerus apabila berbicara dengan orang asing atau orang yang belum dikenal.
- Menolak makan karena merasa terlalu gemuk dan ingin menjadi kurus.
- Merasakan orang lain di sekitarnya selalu mengikuti dirinya dan menyadap pembicarannya.
- Melakukan cuci tangan setiap kali dan berkali-kali.
- Berpikir terus menerus tentang ayahnya, sehingga menganggu pekerjaannya.
- Merasa harus melakukan suatu perilaku berulang-ulang, tanpa dapat ditolak.
- Merasa cemas tanpa alasan
3.1.2 Pengertian
Perilaku Abnormal
Perilaku abnormal adalah kekalutan
mental & melampaui titik kepatahan mental dikenal sebagai nervous breakdown atau (get
mental breakdown). Perilaku abnormal adalah suatu penyimpangan (deviasi).
Seseorang dikatakan mengalami penyimpangan kalau ia berperilaku berbeda dari
reratanya. Hal ini didasarkan pada perhitungan statistik, yang mendasarkan
gejala-gejala kejiwaan maupun ukuran perilaku pada nilai rerata. Orang yang di
bawah ukuran rerata kecerdasan, tergolong menyimpang dari rerata, demikian pula
nilai di atas rerata juga tergolong menyimpang dari rerata.
Penyimpangan juga dapat dilihat dari
fungsi optimal. Orang yang tidak berfungsi optimal juga mengalami gangguan
dalam kondisi tertentu. Definisi abnormal dapat dilihat dari perilaku sebagai
akibat dari gangguan yang sifatnya biologis (fisik), psikologis dan sosial.
Bila ditinjau dari kriteria biologis seseorang yang sakit fisiknya, berarti
tidak dapat berfungsi optimal dalam hidupnya karena gangguan fisik, misalnya
sakit jantung, sakit gigi, sakit kepala. Walaupun kondisi biologis sering tidak
berkaitan dengan kondisi psikis dan sosial, tetapi banyak kasus yang
menunjukkan penyimpangan psikis dan sosial justru bersumber dari kondisi
gangguan fisik. Hal tersebut mengakibatkan perilakunya bermasalah, karena ada
gangguan secara biologis. Seseorang yang sedang sakit gigi yang amat sangat,
akan enggan berbicara atau membahas suatu peristiwa.
Demikian juga bila otak seseorang kelebihan
unsur kimiawi dopamine, maka perilaku orang itu terganggu dan tergolong
gangguan schizophrenia, akibatnya seseorang mengalami pemikiran yang kacau dan
halusinasi. Usaha untuk mengatasi adalah mengurangi unsur dopamine, sehingga
perilakunya menjadi normal kembali.
Penemuan melalui teknologi tinggi tentang fungsi dan
struktur otak manusia membantu memberikan informasi tentang keabnormalan dalam
kerja otak sehingga perilaku terganggu dapat dicegah atau dikurangi.
Kriteria Perilaku Abnormal secara
sederhana dapat dikategorisasikan sebagai berikut
Segi Biologis. Tingkat abnormal dari
unsur biokimia dalam sistem saraf. Gejala fisik, terlihat dari tidur, nafsu
makan dan tingkat energi. Adanya gangguan dalam struktur dan fungsi dari
bagian-bagian dalam otak.
- Segi Psikologis. Pengalaman persepsi dan penginderaan (sensori) yang luar biasa. Fungsi kognitif yang mundur atau aneh. Status emosi terganggu. Distress personal: perilaku menyimpang.
- Segi sosial. Bertentangan dengan norma-norma sosial. Berbahaya bagi orang lain.
Ada beberapa kriteria yang digunakan
untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain :
a. Statistical infrequency
b. Unexpectedness
c. Violation of norms
d. Personal distress (M. Fakhrurrozi, 2012
: 2)
Lebih jelasnya tentang beberapa peilaku
abnormal tersebut penulis uraiakan sebagai berikut :
a. Statistical infrequency
1)
Perspektif ini menggunakan
pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur
didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng.
Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas
ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.
2)
Digunakan dalam bidang medis atau
psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, ketrampilan
membaca, dsb.
3)
Namun, kita jarang menggunakan
istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang
mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
4) Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal.
Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan
abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah
perilaku itu normal atau abnormal.
b.
Unexpectedness
Biasanya
perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi.
Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan
berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya
yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya,
padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan
adalah tidak diharapkan terjadi.
c.
Violation
of norms
1) Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan
konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
2) Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti
normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti
abnormal.
3) Kriteria ini
mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma
masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an,
homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi
dianggap abnormal.
4) Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk
mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi
kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran
dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu
kajian dalam psikologi abnormal.
d.
Personal
distress
1)
Perilaku dianggap abnormal jika hal
itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
2)
Tidak semua gangguan (disorder)
menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai
orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemburuan.
3)
Juga tidak semua penderitaan atau
kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
4) Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk
menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan
secara umum.
3.1.3
Penyebab Perilaku Abnormal
Menurut
tahap – tahap berfungsinya, sebab – sebab perilaku abnormal dapat dibedakan
sebagai berikut :
a.
Menurut
Tahap Berfungsinya
1) Penyebab Primer ( Primary Cause )
Penyebab
primer adalah kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan tidak akan muncul.
Misalnya infeksi sipilis yang menyerang system syaraf pada kasus paresis
general yaitu sejenis psikosis yang disertai paralysis atau kelumpuhan yang
bersifat progresif atau berkembang secara bertahap sampai akhirnya penderita
mengalami kelumpuhan total. Tanpa infeksi sipilis gangguan ini tidak mungkin
menyerang seseorang.
2) Penyebab yang Menyiapkan ( Predisposing Cause )
Kondisi yang
mendahului dan membuka jalan bagi kemungkinan terjadinya gangguan tertentu
dalam kondisi – kondisi tertentu di masa mendatang. Misalnya anak yang ditolak
oleh orang tuanya (rejected child)
mungkin menjadi lebih rentan dengan tekanan hidup sesudah dewasa dibandingkan
dengan orang – orang yang memiliki dasar rasa aman yang lebih baik
3) Penyebab Pencetus ( Preciptating Cause )
Penyebab
pencetus adalah setiap kondisi yang tak tertahankan bagi individu dan
mencetuskan gangguan. Misalnya seorang wanita muda yang menjadi terganggu
sesudah mengalami kekecewaan berat ditinggalkan oleh tunangannya. Contoh lain
seorang pria setengah baya yang menjadi terganggu karena kecewa berat sesudah
bisnis pakaiannya bangkrut.
4) Penyebab Yang Menguatkan ( Reinforcing Cause )
Kondisi yang
cenderung mempertahankan atau memperteguh tinkah laku maladaptif yang sudah
terjadi. Misalnya perhatian yang berlebihan pada seorang gadis yang ”sedang
sakit” justru dapat menyebabkan yang bersangkutan kurang bertanggungjawab atas
dirinya, dan menunda kesembuhannya.
Dalam kenyataan, suatu gangguan
perilaku jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal. Serangkaian faktor
penyebab yang kompleks, bukan sebagai hubungan sebab akibat sederhana melainkan
saling mempengaruhi sebagai lingkaran setan, sering menadi sumber penyebab
sebagai abnormalitas. Misalnya sepasang suami istri menjalani konseling untuk
mengatasi problem dalam hubungan perkawinan mereka. Sang suami menuduh istrinya
senang berfoya – foya sedangkan sang suami hanya asyik dengan dirinya dan tidak
memperhatikannya. Menurut versi sang suami dia jengkel keada istrinya karena
suka berfoya – foya bersama teman – temannya. Jadi tidak lagi jelas mana sebab
mana akibat.
b.
Menurut
Sumber Asalnya
Berdasarkan
sumber asalnya, sebab-sebab perilaku abnormal dapat digolongkan sedikitnya
menjadi tiga yaitu :
1) Faktor Biologis
Adalah
berbagai keadaan biologis atau jasmani yang dapat menghambat perkembangan
ataupun fungsi sang pribadi dalam kehidupan sehari – hari seperti kelainan gen,
kurang gizi, penyakit dsb. Pengaruh – pengaruh faktor biologis lazimnya bersifa
menyeluruh. Artinya mempengaruhi seluruh aspek tingkah laku, mulai dari
kecerdasan sampai daya tahan terhadap stress.
2) Faktor – faktor psikososial
a.
Trauma Di
Masa Kanak – Kanak
Trauma
Psikologis adalah pengalaman yang menghancurkan rasa aman, rasa mampu, dan
harga diri sehingga menimbulkan luka psikologis yang sulit disembuhkan
sepenuhnya. Trauma psikologis yang dialami pada masa kanak – kanak cenderung
akan terus dibawa sampai ke masa dewasa.
b. Deprivasi Parental
Tiadanya
kesempatan untuk mendapatka rangsangan emosi dari orang tua, berupa kehangatan,
kontak fisik,rangsangan intelektual, emosional dan social. Ada beberapa
kemungkinan sebab misalnya:
Dipisahkan
dari orang tua dan dititipkan di panti asuhan serta Kurangnya perhatian dari
pihak orang tua kendati tinggal bersama orang tua di rumah.
c. Hubungan orang tua – anak yang patogenik
Hubungan
patogenik adalah hubungan yang tidak serasi, dalam hal ini hubungan antara
orang tua dan anak yang berakibat menimbulkan masalah atau gangguan tertentu
pada anak.
d. Struktur keluarga yang patogenik
Struktur keluarga sangat menentukan corak komunikasi
yang berlangsung diantara para anggotanya. Struktur keluarga terten’tu
melahirkan pola komunikasi yang kurang sehat dan selanjutnya muncul pola
gangguan perilaku pada sebagian anggotanya. Ada empat struktur keluarga yang
melahirkan gangguan pada para anggotanya:
e . Keluarga yang tidak mampu mengatasi
masalah sehari-hari.Kehidupan keluarga karena berbagai macam sebab seperti
tidak memiliki cukup sumber atau karena orang tua tidak memiliki pengetahuan
dan keterampilan secukupnya .
f.
Stress berat
Stress adalah keadaan yang menekan
khususnya secara psikologis. Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai sebab,
seperti :
3)
Faktor –
faktor Sosiokultural
Meliputi
keadaan obyektif dalam masyarakat atau tuntutan dari masyarakat yang dapat
berakibat menimbulkan tekanan dalam individu dan selanjutnya melahirkan
berbagai bentuk gangguan seperti:
a. Suasana perang dan suasana kehidupan
yang diliputi oleh kekerasan,
b. Terpaksa
menjalani peran social yang berpotensi menimbulkan gangguan, seperti menjadi
tentara yang dalam peperangan harus membunuh.
c. Menjadi korban prasangka dan
diskriminasi berdasarkan penggolongan tertentu seperti berdasarkan agama, ras,
suku dll.
Langganan:
Komentar (Atom)